Home / Uncategorized / Teknologi Digital Sebagai Kebudayaan Generasi Milenial
    29 October, 2018

    Teknologi Digital Sebagai Kebudayaan Generasi Milenial

    Posted in : Uncategorized on by : admin

    Mengapa teknologi digital menjadi jagat kebudayaan semua Milenials?

    Berdasarkan keterangan dari 828BET semenjak kelahiran internet di era 80-an, teknologi digital datang ke hadapan kita. Website menjadi produk global di mula 90-an. Lalu hadir pager hingga PGA di era yang serupa. Era smartphone dibuka saat Samsung dan iPhone tidak sedikit merilis gawai mereka. Dan hingga saat, dari 7 miliar populasi dunia 3,2 miliarnya telah terkoneksi internet.

    Kaum Milenials ialah generasi yang bermunculan dan berkembang seiring cepatnya inovasi teknologi digital. Sosmed menjadi media mereka berkomunikasi. Internet sebagai sumber informasi aktual dan faktual mereka. Dan gawai sebagai keperluan primer dan keberterimaan sosial mereka.

    Generasi Milenial

    Generasi Milenial

    Indonesia sekarang mempunyai 134 juta pemakai internet. Semua sisi kehidupan anda tak pernah terpisah dari dunia digital. Saat insan dan dunia sekitarnya menjadi korelasi mutual, jagat kebudayaan juga terbentuk.

    Dengan besarnya jumlah pemakai , teknologi menjadi arena ekonomi. Mulai dari informasi keperluan sandang sampai papan didapat via gawai. Mataduit virtual tanpa tatap muka penjual-pembeli juga menjadi pola transaksi.

    Algoritma iklan via sosmed atau mesin peramban menjadi tokonya. Micro targeting berkat algoritma menjadi senjata pemasaran produk. Informasi pembeli dari mulai perilaku klik, sampai tempat menjadi komoditas ekonomis.

    Teknologi digital juga menjadi media pemudah pendidikan. Guru, dosen, bahkan siswa barangkali lebih memerlukan Google daripada buku. Takdapat dihindari juga tulisan sampai skripsi mahasiswa ialah hasilpencarian via Google.

    Banyak sekali jurnal, kitab digital, dan website kini dapat diakses via gawai. Tak usah butuh lagi pergi ke perpustakaan. Atau bahkan membelikitab fisiknya di toko buku. Cukup sejumlah klik, informasi edukatifdapat diakses dan diunduh.

    Isu sosial juga tak pernah surut menjadi sorotan di dunia maya. Mulai dari isu perundungan di sekolah hingga isu sensitif dengan SARA bertumburan via sosmed. Semua orang hendak tahu dan menyaksikan dan men-share konflik yang ada. Namun jarang yang inginkan meredakan dan meredam konflik serupa terjadi di beda waktu dan tempat.

    Ujaran kebencian dan radikalisme menjadi latensi konflik bersembunyi di akun-akun palsu. Pemerintah dan aktifis internet 24/7 berpatroli di dunia maya. Tetapi dengan puluhan/ratusan juta interaksi yang ada. Memberangus aktor jahat dibalik seluruh ini laksana kenihilan.

    Meraih suara pemilu dan opini publik pada isu politik terwadahi sempurna di dunia maya. Saat suara beberapa besar menjadi patokan kebenaran politis. Membentuk populasi produksi pun mudah dilaksanakan via sosmed. Penggiringan opini hingga pembentukan mindset publik tidak lagi propaganda tersembunyi.

    Ketika demokrasi tersingkap menjadi arah penentu bangsa. Demokrasisekarang redup terhalangi perspektif post-truth dunia maya. Semua opini politik mencantol pembenahan sistem kenegaraan dan politik benar karenadipercayai benar secara pribadi.

    Pun dengan ranah hiburan, kesehatan, ketenteraman ketahanan bangsa, dan hubungan bilateral teknologi. Tanpa teknologi informasi menjadi infrastruktur ranah-ranah tadi. Tidak barangkali ranah-ranah tadi bertahan di era digital ketika ini.

    Para Milenials telah menjadikan teknologi teman ketika mata terbukasampai mereka tertidur. Mereka memesan santap via online. Membeli baju di toko online. Mencari jawaban tugas PR via Google. Sampai menggali tontonan juga via dunia virtual.

    Coba kita sebutkan kegiatan apa yang kiranya tiada terwadahi software yang ditawarkan dunia digital?

    Tak ayal, dunia digital ialah kebudayaan semua Milenials. Mereka hidup dan berkembang bersandingan dengan dunia digital via gawai mereka. Menjauh dari gawai akan barangkali akan menjadi stereotipe ‘manusia purba’. Mereka yang tidak melek teknologi juga seolah terbelakang dalam seluruh hal.

    Batasan identitas kenegaraan, etnisitas, bahkan agama tiada jelas di dunia maya. Semua orang dapat menjadi siapapun di dalam dunia daring. Anonimitas ialah keniscayaan pemakai internet. Representasi inferior diri tidak menjadi kelebihan di dunia maya.

    Namun pulang disayangkan, teknologi di Indonesia masih menjadi instrumen. Sedang tidak sedikit negara beda menjadikan teknologi artefak dalam peguatan dan pembangunan generasinya. Teknologi digital di anda tidak menjadi kurikulum, mata pelajaran, bahkan modul di kelas.

    Teknologi digital masih menjadi dunia euforis daripada literasi di negri ini. Dan hingga kapan anda menjadi pemakai dan penghabis teknologi semata. Tanpa mengetahui sedikit saja dunia yang semua Milenials Indonesia huni.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *