Home / Uncategorized / Panduan Menulis CV Yang Baik dan Benar
    6 September, 2018

    Panduan Menulis CV Yang Baik dan Benar

    Posted in : Uncategorized on by : admin Tags:

    Dalam beberapa kali kesempatan, saya pernah diminta untuk menyeleksi para aplikan yang mendaftar untuk mendapatkan seed funding sebagai modal awal bisnis mereka. Beberapa di antaranya adalah program UI Incubate yang diselenggarakan oleh Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis, Universitas Indonesia.

    Untuk menyeleksi siapa yang berhak mendapatkan dana (belasan hingga puluhan juta waktu itu), terdapat beberapa fase. Pada fase awal adalah seleksi berkas, interview, lalu kemudian adalah presentasi ide bisnis.

    Pengalaman tersebut memberikan saya sebuah pelajaran betapa sulitnya untuk betul – betul menemukan talenta yang sesuai. Kenapa? Karena di era saat ini, seseorang dapat dengan sangat mudah menjadi seorang social climber, atau mereka yang mencitrakan diri mereka adalah orang yang potensial, padahal tidak.

    Fenomena ini sering saya temukan saat menjadi tim penilai untuk menyeleksi aplikan di program lain, yaitu beasiswa rumah peradaban Shafa. Sebuah beasiswa untuk membentuk mahasiswa muda berprestasi potensial agar dapat ditempa menjadi pemimpin muda masa depan. Masalahnya sama: beberapa kali tim penilai ‘tertipu’ dengan polesan – polesan CV para aplikan. Hal paling sederhana, banyak aplikan yang memasukkan keikutsertaan dalam seminar sebagai “peserta” adalah prestasi sehingga kesannya prestasinya banyak.

    Untuk mengatasi hal tersebut dan agar tidak tertipu dengan tampilan dari aplikan, Tomas Chamorro – Premuzic dalam sebuah artikel Harvard Business Review1 mengatakan bahwa seorang penilai wajib memperhatikan hal – hal i yang dikutip oleh https://happybet188.co/ berikut ini. Dalam menilai kelayakan seorang aplikan dari Curriculum Vitae (CV) nya:

    Relevansi dengan kebutuhan yang dicari
    Kuantifikasi Pengalaman
    Fokus dalam Menjual Potensi
    Learning abilities, drive, people skill (tunjukkan kemampuan tersebut)
    Recommendation dari otoritas terkait
    Dengan adanya kriteria – kriteria tersebut, tentu akan semakin menantang bagi millennials untuk bagaimana ‘menjual’ diri mereka kepada para penilai atau tim reviewer.

    Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi tips tentang bagaimana caranya agar kita dapat menuliskan curriculum vitae dengan baik dan cemerlang tanpa terkesan show off berlebihan. Namun tentu, pada dasarnya CV yang baik adalah yang ditulis sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan tanpa melebih – lebihkan. Tips ini juga saya tulis sekaligus menyambut lulusan – lulusan baru di Teknik Industri yang mudah – mudahan setelah wisuda segera mendapatkan karir yang cemerlang. Tips ini (mungkin) juga bisa diaplikasikan untuk melamar beasiswa atau kuliah lagi.

    TIPS 1 – Tulis Hanya Apa yang Dilakukan
    Peraturan pertama dalam menulis CV baik itu yang ditulis secara online maupun offline adalah wajib ditulis berdasarkan fakta yang sebenarnya. Jadi, tidak perlu menambah-nambahkan sesuatu yang memang tidak dilakukan.

    Sebagai contoh, dulu pernah ada mahasiswa yang ingin sekali di CV nya menjadi ketua dalam penyelenggaraan konferensi internasional. Hal yang dia lakukan adalah mengontak 2 temannya di luar negeri, membuat conference call, dan menulis bahwa dia pernah menjadi ketua konferensi internasional. Secara esensi, mungkin yang dia lakukan memang menjadi ketua panitia untuk penyelenggaraan konferensi tersebut. Namun, dalam persepsi penilai, ketua penyelenggara konferensi internasional adalah acara tatap muka, mengumpulkan peneliti dan kalangan profesional di bidangnya, untuk saling bertemu dan mempresentasikan hasil penelitian.

    Hal – hal seperti di atas sebaiknya dikurangi, walaupun mungkin tidak sepenuhnya berbohong, namun ada indikasi untuk me ‘mark-up’ kehidupan sosialnya melalui jalan pintas.

    TIPS 2 – Lihat dari Sudut Pandang Reviewer
    Bagi Anda yang ingin menulis, mengirimkan, atau memajang CV secara online, pastikan bahwa CV yang ditulis adalah informasi yang penting untuk diketahui reviewer.

    Sebagai contoh misalnya ketika kita mencantumkan pengalaman bahwa kita pandai bermusik, sementara tim penilai sedang mencari seorang yang mampu memecahkan masalah secara logis. Apakah kemampuan bermusik tadi penting untuk dicantumkan? Jika memang penting untuk diketahui oleh reviewer, maka silakan dicantumkan. Apabila sekiranya tidak penting, maka sebaiknya tidak perlu dicantumkan.

    Oh ya, terkadang reviewer juga suka melihat aktivitas media sosial kita. Maka pastikan bahwa semua aktivitas media sosial kita memberikan gambaran yang baik dan konsisten terhadap apa yang kita tuliskan di CV.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *