Home / Uncategorized / Mengembangkan Potensi Diri Yang Efektif Pasca Kuliah
    6 September, 2018

    Mengembangkan Potensi Diri Yang Efektif Pasca Kuliah

    Posted in : Uncategorized on by : admin Tags:

    Dikutip https://sedayubet.org/, Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers pernah memberikan sebuah saran yang sederhana namun sangat berdampak dalam dunia pengembangan diri. Saran tersebut kurang lebih berbunyi sebagai berikut,

    “Apabila Anda ingin menjadi seorang ahli (expert) di bidangnya, maka Anda harus menempuh waktu paling sedikit 10,000 jam untuk melatihnya.” Kalau diberikan contoh sederhana, bagi Anda yang ingin belajar menjadi seorang pembicara publik, maka Anda harus melatih diri Anda berbicara di depan orang selama 10,000 jam (saya sendiri saat ini kurang lebih baru mengumpulkan total berbicara di depan publik sekitar 6500an jam – belum expert, hehe). Gagasan ini diperkuat dengan istilah deliberate practice belakangan ini, yang mengatakan bahwa 10,000 jam saja tidak cukup namun harus mendapatkan feedback atas latihan Anda.

    Nasihat ini terus saya bawa sejak saat kuliah hingga saya lulus dan berprofesi sebagai seorang dosen maupun trainer. Hingga akhirnya masalah mulai terjadi saat saya sudah lulus kuliah dan tidak ada yang ‘memaksa’ saya untuk mempelajari sesuatu secara tuntas.

    Siapapun tentu merasakan perubahan yang signifikan dari fase saat di kampus hingga kemudian masuk ke fase pasca kampus dan mulai bekerja. Satu hal yang paling signifikan dirasakan adalah kurangnya waktu belajar untuk meningkatkan kompetensi diri. Bahkan saya yang seorang dosen pun sudah sangat disibukkan jadwal mengajar sehingga nyaris tidak sempat ‘memaksa’ diri untuk belajar. Teman seangkatan saya yang bekerja di perusahaan (bahkan yang bagus dan ternama) pun mengeluhkan bahwa mereka memiliki sedikit waktu untuk belajar dan hal itu membuat otak mereka terasa menjadi tumpul karena melakukan sebuah hal yang itu.- itu saja (apakah kamu merasakannya juga?). Sebuah penelitian bahkan menyimpulkan secara kuantitatif bahwa pekerja di era modern itu memiliki waktu yang sangat sedikit untuk belajar, yaitu kurang dari 1% dari total waktu yang mereka punya.2

    Padahal kalau saya boleh jujur, banyak perusahaan yang mensyaratkan berbagai macam keterampilan dan kemampuan untuk bisa naik jabatan. Kita pun dituntut untuk selalu belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Tantangan semakin besar di mana kita tahu ada begitu banyak informasi yang dapat diakses dengan mudah untuk dipelajari. Misalnya, saya senang sekali menonton acara inspiratif TED Talks yang saat ini sudah memiliki lebih dari 3,000 video. Saya juga memiliki koleksi ebook yang terdapat di katalog perpustakaan digital saya sebanyak lebih dari 1,000 judul. Saya juga berlangganan sebuah online courseyang dalam databasenya terdapat kurang lebih 10,000 massive open online course(MOOC). Dengan kondisi seperti ini, bagaimana cara agar kita dapat meningkatkan kompetensi diri dengan efektif di tengah banyaknya informasi yang tersedia, sementara waktu kita sangat sedikit?

    Salah satu strategi yang efektif untuk saya adalah dengan menggunakan pendekatan time-utility analysis. Time-utility analysis adalah sebuah teknik analisa dalam mengambil keputusan dengan cara membandingkan lamanya “waktu” (time) belajar dengan seberapa sering kita menggunakan kompetensi tersebut (utility)3. Dengan time-utility analysis ini, kita dapat membentuk sebuah kuadran yang bisa membantu kita menentukan prioritas.

    Sebagai dosen dan trainer, misalnya. Saya memiliki banyak sekali ‘menu’ kompetensi untuk saya pelajari. Mulai dari public speaking, cara mengajar kreatif (creative teaching), belajar algoritma dan pemrograman untuk simulasi industri, hingga bagaimana cara menulis blog. Saking banyaknya, saya jadi bingung mana yang ingin saya pelajari. Kalau bingungnya kelamaan, bisa – bisa saya juga jadi ga ngapa-ngapain

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *