Home / Uncategorized / Cara Mewujudkan Pilkada Yang Sehat
    6 September, 2018

    Cara Mewujudkan Pilkada Yang Sehat

    Posted in : Uncategorized on by : admin Tags:

    Kutipan https://betwin188.online/ , Malam itu saya sedang santay dirumah dirumah sambil menonton tv, pada saat mencari film atau tontonan tidak sengaja saya melihat tentang perdebatan cagub dan cawagub Jawa Barat. Sebagai seorang yang tinggal di Bogor sekeluarga, tayangan ini menjadi menarik dan sangat relevan buat kami. Jadilah saya dan istri akhirnya menonton acara debat tersebut, sambil menimbang kapasitas masing – masing paslon.

    Setelah acara tersebut selesai, saya dan istri kembali berdiskusi tentang kekuatan dan kelemahan masing – masing calon, sambil menebak – nebak siapa yang akan menang nantinya. Uniknya, saya dan istri menjatuhkan pilihan berbeda tentang ‘jagoan’ pilgub kami masing – masing. Namun, perbedaan tersebut kami bahas dengan sangat cair, tidak ada tensi, apalagi saling memaki paslon lain. Hingga kemudian kami menutup diskusi dan memastikan bahwa kami bisa memilih gubernur Jawa Barat pada tanggal 27 Juni nanti. Alhamdulillah, banyaknya perbedaan pandangan di keluarga tentang masing – masing paslon cagub dan cawagub Jawa Barat di keluarga saya disikapi dengan bijak dan dewasa, sehingga suasana sebelum PILKADA di rumah saya pada khususnya jadi relatif sehat.

    Cairnya suasana tersebut, belum tentu dapat ditemukan di keluarga lainnya. Pernah ada seorang teman yang bercerita sampai akhirnya dia bertengkar dengan istri atau orang tuanya karena membela paslon masing – masing, menjelek – jelekkan paslon lain, yang akhirnya terpancing emosi dan malah membuat retak hubungan kekeluargaan.

    Kadang saya ditanya, bagaimana cara membuat suasana di keluarga tetap cair saat PILKADA? Jujur buat saya ini pertanyaan aneh, karena memang harusnya biasa saja, tidak perlu ada tensi, apalagi emosi. Namun setelah merenung sedikit, sepertinya ada beberapa catatan yang bisa saya bagikan agar membuat PILKADA dan pemilihan – pemilihan pemimpin lainnya tetap cair, sportif (udah kaya atlit aja ya), dan sehat. Saya semakin tergerak untuk menulis setelah melihat semrawutnya media sosial yang isinya saling menghujat, menjelekkan, lempar hoax di sana-sini, dan bahkan berujung pada unfriend di media sosial karena perbedaan pandangan. Buat saya, hal tersebut tidaklah sehat dan kalau bisa dikurangi.

    Jadi, apa saja tips yang bisa saya bagikan untuk mempersiapkan PILKADA yang sehat? Berikut adalah beberapa catatan dari saya.

    Pertama, Hindari Jebakan Virus Haters and Lovers

    Menurut saya, salah satu hal yang membuat PILKADA dan PIL PIL lain di Indonesia menjadi kurang sehat adalah karena banyak dari kita yang terkena virus haters and lovers. Haters and lovers ini dapat dengan mudah dilihat dari hilangnya rasionalitas dan objektivitas dalam berpikir. Seorang yang terkena virus haters and lovers, akan selalu memandang jelek paslon lainnya, tidak mengakui prestasi paslon lawan, selalu mencari kejelekan paslon lawan, serta memuja dan memuji paslon unggulannya, bahkan tidak mengakui kekurangan paslon jagoannya. Nah, yang seperti ini adalah gejala dari haters and lovers.Model ini pula yang banyak bertebaran di sosial media. Kalau kita tidak hati – hati, seringkali kita diajak masuk ke dalam grup haters and lovers, membuat kita secara tidak sadar ketularan dengan virus itu. Apalagi saat ini media sosial bekerja dengan algoritma relevansi yang akan memberikan asupan informasi yang sesuai dengan preferensi kita. Kalau kita masuk menjadi haters and lovers,maka media sosial akan terus menyuplai informasi yang memang kita ingin lihat atau dengar. Dampaknya, yang haters akan semakin benci ke paslon lain, dan yang lovers akan semakin cinta ke paslon jagoannya.

    Makanya di keluarga saya, menjagokan paslon itu sah – sah saja, tetapi rasionalitas dan objektivitas harus tetap dijunjung. Salah satu prinsip yang dipegang keluarga saya dalam PILKADA dan PIL PIL lainnya adalah, objektif dalam berpikir, adil dalam bertindak. Objektif maksudnya melihat paslon dengan kacamata kapasitas, value, dan rekam jejak. Sementara adil dalam bertindak maksudnya menerima kebaikan dan keburukan dari masing – masing paslon secara adil. Terhindar dari virus haters and lovers ini membuat suasana PILKADA menjadi lebih kondusif dan sehat. Jadi ingat, nilailah paslon secara rasional dan objektif, hindari terjangkit virus haters and lovers.

    Kedua, Tidak Membenturkan Prinsip dan Kriteria

    Hal lain yang membuat PILKADA menjadi tidak sehat adalah membenturkan prinsip dan kriteria antar pendukung paslon yang berbeda. Hal ini seringkali terjadi pada tim pemenangan yang memang bertugas ‘mempengaruhi’ keputusan swing voters, atau mereka yang belum mengambil keputusan. Saking semangatnya, tim pemenangan ini juga ‘memaksa’ untuk mempengaruhi mereka yang sudah memiliki prinsip dan kriteria sendiri dalam memilih. Ketika hal tersebut dibenturkan, maka yang terjadi adalah ketegangan dan bahkan berujung pada kebencian.

    Saya akan contohkan, misalnya saya memiliki kriteria dan prinsip memilih pemimpin itu haruslah yang senantiasa memikirkan rakyat dan tidak memikirkan diri sendiri. Contoh nyata dari pemimpin seperti itu yang saya kenal salah satunya adalah Ibu Tri Rismaharini (Risma), Walikota Surabaya. Sementara, istri saya memiliki prinsip dan kriteria dalam memilih pemimpin haruslah yang cerdas, berkapasitas, prestasi segudang, dan memiliki rekam jejak yang baik. Kira – kira dengan prinsip dan kriteria seperti itu, mungkinkah pilihan kami di PILKADA Jawa Barat berbeda? Sangat mungkin!

    Hal yang membuat kami nyaman di rumah dalam diskusi adalah masing – masing dari kami menghormati prinsip dan kriteria itu, tanpa harus membenturkannya. Masing – masing dari kami menjelaskan prinsip dan kriteria yang kami miliki sebagai masukan untuk memilih paslon, yang mungkin bisa dipertimbangkan saat hari PILKADA nanti. Namun, tidak ada pemaksaan sama sekali dan tetap menghormati pendapat masing – masing.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *